Lihatlah Aku (Part 9)


ini cuma cerita buat seneng2 aja. jika ada kesamaan nama mohon dimaklumi.


Selamat membaca :)





Flo dan Rista sedang memasukkan baju olahraga ke loker mereka masing-masing. Terlihat Alfa datang menghampiri. Flo terlihat malas.
“Flo, gue ...”
“Ta, gue duluan ya. Mau rapat,” Flo memotong perkataan Alfa lalu ia pun pergi. Alfa hanya menghela nafas panjang melihat perilaku Flo terhadapnya.
“Lo berantem ama Flo?” tanya Rista melihat punggung Flo yang semakin menjauh.
Alfa terlihat sedih, “Dia udah tau, Ris.”
“Eh? Tau dari siapa?”
“Gue.”
“Aduh, kenapa lo bilangnya sekarang?”
Alfa menghela nafas. “Gue nggak bisa terus-terusan bohongin dia.”
Rista menepuk pundak Alfa. “Gue ngerti kok. Kalo udah begini rencana lo apa?”
Alfa mengangkat bahu. “Gue duluan ya, Ris!”






****





“Ah, sial! Rapatnya lama amat sih! Jadi pulang kesorean gini. Mana udah mau gelap! Sepi pula!” Flo mendumel selama perjalanan pulang ke rumahnya.
Saat melewati taman, tiba-tiba ada 7 orang yang menghadangnya, salah satu dari mereka menarik tangan Flo. Mereka adalah preman yang sedang mabuk.
“Lepasin gue!”
“Ayo kita main neng!” sang bos tersenyum menggoda.
“Ogah!”
“Wah, dia songong tuh bos,” ujar salah satu pengikut yang berdiri di samping bosnya.
Sang bos, mendekati Flo dan mencolek dagunya. Flo mebuang wajahnya. Dan ketika itu juga tangannya ditarik kasar oleh preman yang memeganginya.
“Lepasin gue!” Flo memberontak. Namun cengkraman preman itu justru semakin kencang. “Aw! Lepasin gue! Sakit tau!”
Preman-preman itu hanya menyeret Flo. “Lo lo semua mau bawa gue kemana, hah? Toloooooong!” Flo menjerit sekencangnya.
“Lo bisa diem nggak sih?! Berisik amat!” orang itu membentak kencang, Flo terdiam. Nafasnya tak teratur. Ketakutan.
“HOI! Beraninya main keroyokan lo!”
Tiba-tiba ada seseorang yang menantang. Tentu saja mereka semua menoleh begitu juga Flo. Mereka geram. Sementara Flo terkejut. Kenapa si Gio itu ada disini? Pikir Flo.
“Kalau berani, ayo sini maju! One by one, woi!” katanya menantang.
“Cuih! Songong-songong amat nih anak kecil!”
“Ose, lo udah diapain aja sama preman-preman banci ini?!”
“Sembarangan aja lo kalo ngomong!”
Mendengar perkataan Gio, preman-preman itu langsung mengeroyok Gio. Gio balas melawan, sesekali ia kena tonjok salah satu preman itu. Tapi lama kelamaan Gio kewalahan juga. Flo melihat orang yang memeganginya melamun langsung saja Flo pun menggigit tangan orang itu dan ia berhasil kabur dan menolong Gio yang hampir saja terpukul. Alhasil, dirinyalah yang kena pukulan keras di perutnya. Flo hanya bisa menahan sakitnya. Melihat itu Gio langsung saja menghajar semua yang mengelilinginya. Ia menghampiri Flo.
“Lo gila, hah? Itu bahaya!” Gio mencoba menahan amarahnya.
Flo tak mengindahkan kata-kata Gio karena ia melihat preman di belakang Gio membawa pisau lipat di tangannya. Flo pun langsung menghadang orang itu. Mata Gio melebar, melotot menatap Flo. Preman itu tetap berjalan yang sebelumnya mendorong Flo hingga jatuh tersungkur di jalan. Sikunya terluka. Tapi ia masa bodoh, ia hanya menatap Gio yang mencoba menghindari pisau tajam yang mencoba menusuk tubuh Gio. Gio melirik ke arah Flo yang gemetar karena takut. Dan pada saat itu juga amarah Gio memuncak. Ia menghajar habis-habisan orang itu hingga membuat pisau lipat preman itu terlempar dan sang preman terjatuh lemah. Setelah itu Gio menghampiri preman-preman yang lainnya dan menghajar mereka. Preman-preman itu kewalahan dan berlari menjauh. Mereka kabur dengan memegangi daerah yang terasa ngilu. Gio mendekati Flo sambil memegangi lengan kirinya yang sempat tergores pisau saat menghajar preman tadi.

“Lo nggak papa?”









bersambung ...
Copyright 2009 Bubble Fairy Tail Story. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates