ini cuma cerita buat seneng2 aja. jika ada kesamaan nama mohon dimaklumi.
Selamat membaca :)
Flo dan Rista sedang
memasukkan baju olahraga ke loker mereka masing-masing. Terlihat Alfa datang
menghampiri. Flo terlihat malas.
“Flo, gue ...”
“Ta, gue duluan ya. Mau
rapat,” Flo memotong perkataan Alfa lalu ia pun pergi. Alfa hanya menghela
nafas panjang melihat perilaku Flo terhadapnya.
“Lo berantem ama
Flo?” tanya Rista melihat punggung Flo yang semakin menjauh.
Alfa terlihat sedih,
“Dia udah tau, Ris.”
“Eh? Tau dari siapa?”
“Gue.”
“Aduh, kenapa lo
bilangnya sekarang?”
Alfa menghela nafas.
“Gue nggak bisa terus-terusan bohongin dia.”
Rista menepuk pundak
Alfa. “Gue ngerti kok. Kalo udah begini rencana lo apa?”
Alfa mengangkat bahu.
“Gue duluan ya, Ris!”
****
“Ah, sial! Rapatnya
lama amat sih! Jadi pulang kesorean gini. Mana udah mau gelap! Sepi pula!” Flo
mendumel selama perjalanan pulang ke rumahnya.
Saat melewati taman,
tiba-tiba ada 7 orang yang menghadangnya, salah satu dari mereka menarik tangan
Flo. Mereka adalah preman yang sedang mabuk.
“Lepasin gue!”
“Ayo kita main neng!”
sang bos tersenyum menggoda.
“Ogah!”
“Wah, dia songong tuh
bos,” ujar salah satu pengikut yang berdiri di samping bosnya.
Sang bos, mendekati
Flo dan mencolek dagunya. Flo mebuang wajahnya. Dan ketika itu juga tangannya
ditarik kasar oleh preman yang memeganginya.
“Lepasin gue!” Flo
memberontak. Namun cengkraman preman itu justru semakin kencang. “Aw! Lepasin
gue! Sakit tau!”
Preman-preman itu
hanya menyeret Flo. “Lo lo semua mau bawa gue kemana, hah? Toloooooong!” Flo
menjerit sekencangnya.
“Lo bisa diem nggak
sih?! Berisik amat!” orang itu membentak kencang, Flo terdiam. Nafasnya tak
teratur. Ketakutan.
“HOI! Beraninya main
keroyokan lo!”
Tiba-tiba ada
seseorang yang menantang. Tentu saja mereka semua menoleh begitu juga Flo.
Mereka geram. Sementara Flo terkejut.
Kenapa si Gio itu ada disini?
Pikir Flo.
“Kalau berani, ayo
sini maju! One by one, woi!”
katanya menantang.
“Cuih!
Songong-songong amat nih anak kecil!”
“Ose, lo udah diapain
aja sama preman-preman banci ini?!”
“Sembarangan aja lo
kalo ngomong!”
Mendengar perkataan
Gio, preman-preman itu langsung mengeroyok Gio. Gio balas melawan, sesekali ia
kena tonjok salah satu preman itu. Tapi lama kelamaan Gio kewalahan juga. Flo
melihat orang yang memeganginya melamun langsung saja Flo pun menggigit tangan orang
itu dan ia berhasil kabur dan menolong Gio yang hampir saja terpukul. Alhasil,
dirinyalah yang kena pukulan keras di perutnya. Flo hanya bisa menahan
sakitnya. Melihat itu Gio langsung saja menghajar semua yang mengelilinginya.
Ia menghampiri Flo.
“Lo gila, hah? Itu
bahaya!” Gio mencoba menahan amarahnya.
Flo tak mengindahkan
kata-kata Gio karena ia melihat preman di belakang Gio membawa pisau lipat di
tangannya. Flo pun langsung menghadang orang itu. Mata Gio melebar, melotot
menatap Flo. Preman itu tetap berjalan yang sebelumnya mendorong Flo hingga
jatuh tersungkur di jalan. Sikunya terluka. Tapi ia masa bodoh, ia hanya
menatap Gio yang mencoba menghindari pisau tajam yang mencoba menusuk tubuh Gio.
Gio melirik ke arah Flo yang gemetar karena takut. Dan pada saat itu juga
amarah Gio memuncak. Ia menghajar habis-habisan orang itu hingga membuat pisau
lipat preman itu terlempar dan sang preman terjatuh lemah. Setelah itu Gio
menghampiri preman-preman yang lainnya dan menghajar mereka. Preman-preman itu
kewalahan dan berlari menjauh. Mereka kabur dengan memegangi daerah yang terasa
ngilu. Gio mendekati Flo sambil memegangi lengan kirinya yang sempat tergores
pisau saat menghajar preman tadi.
“Lo nggak papa?”
bersambung ...






