ini cuma cerita buat seneng2 aja. jika
ada kesamaan nama mohon dimaklumi.
Selamat membaca :)
“Flo... lo baik,
kan?” tanya Alfa khawatir melihat Flo yang hanya diam tak menjawabnya. Alfa
mencoba menyentuh tangan Flo. Tapi kalah cepat dengan Flo yang menarik
tangannya gesit tanpa memandang ke arah
Alfa. Alfa sontak terkejut. Terlihat di raut wajahnya perasaan bersalah ketika
melihat kelakuan Flo yang berubah drastis.
“Flo, sorry,” ungkapnya. “Gue tau gue salah
selama ini.... ” Alfa berhenti untuk menarik nafasnya. “Maaf jika aku
mengecewakanmu.”
Flo langsung menatap
tajam ketika Alfa mengakhiri kalimatnya, kekesalannya benar-benar memuncak. “Semudah itu kah?” Flo tersenyum
sinis. “Lo tau? Betapa sakitnya hati gue saat lo ninggalin gue tanpa berkata apapun?!!
Bahkan kata selamat tinggal !!?”
BRAAK!
Suara kursi tergeser
kasar terdengar bersamaan dengan Flo yang terbangun dari duduknya. Kedua
tangannya menopang lurus ke meja, tubuhnya sedikit dibungkukkan membiarkan
dirinya menatap lurus ke arah Alfa. Tatapan penuh benci. Alfa mendongak. Ia
hanya diam membiarkan mata mereka berbicara dengan isyaratnya. Merasa kalau
dirinya sudah tak mampu membendung rasa sakit di hatinya, Flo segera berbalik
dan segera mengemasi barang-barangnya dengan sigap. Alfa yang melihat Flo
berkemas itu refleks menarik tangan Flo. Namun Flo segera melepasnya kuat-kuat.
Alfa tak henti-hentinya merujuk Flo untuk kembali duduk dan mendengarkan
penjelasannya. Namun tetap saja usahanya itu sia-sia, Flo tetap pada pendiriannya.
Bersamaan dengan selesainya berkemas, air mata Flo ikut luluh dan saat itu juga
Flo langsung berlari sekuatnya tanpa memperdulikan Alfa yang memanggil dan
mengejarnya dari belakang. Flo menuruni tangga dengan cepat. Dua anak tangga
pun ia lewati, tangisnya yang tak kunjung berhenti membuatnya semakin ingin
segera pergi dari tempat itu. Karena terburu-buru, Flo terpeleset dan hampir
terjatuh dari anak tangga.
GYAAAAAAAA! Flo menjerit tak karuan. Ia ketakutan. Tapi untunglah
ada seseorang yang menolongnya, mendekap begitu lembut dan nyaman. Mata mereka beradu
pandang. Menatap begitu dalam. Terdengar suara detak jantung berdebar cepat di
dada Flo.
“Flo.... ” panggilan
Alfa langsung melemah ketika ia melihat Flo dan Gio.
Sementara Flo dan Gio
langsung terkejut, tanpa sadar mereka saling menjauhkan diri.
“Dasar bodoh, turun
tangga begitu doang kepleset!” omel Gio.
Flo mengusap sisa air
mata di pipinya, melihat itu Gio baru sadar dan langsung menatap Alfa tajam.
“Itu bukan urusan
lo!” cetus Flo menatap ke arah Alfa dingin lalu bergegas pergi. Namun tangan
lihai Gio lebih cepat dari gerakan Flo. Flo mencoba meronta, namun Gio
memegangnya erat.
“Lepas! Dasar tokek
pincang!” Flo terlihat sangat kesal. Namun semakin lama nafas mulai tak
teratur, Flo pun kembali terisak.
Perlahan Gio melonggarkan
genggamannya dan Flo langsung menarik tangannya dan berlari menjauh. Melihat
itu Alfa mengejar Flo. Saat membelakangi Gio, Alfa terhenti karena Gio
memegangi pundaknya.
“Lo apain dia?” tanya
Gio dingin.
“Itu bukan urusan lo,
Gi.”
“Itu bakal jadi
urusan gue kalo ada orang yang buat dia nangis.”
Alfa berbalik,
melepas paksa cengkraman Gio. “Lo nggak punya hak atas itu.”
“Seharusnya gue yang
bilang begitu!”
BUK!
Sebuah pukulan keras
melayang ke pipi Alfa cepat membuat wajahnya terlihat membiru.
****
Flo duduk melamun di
salah satu pohon di sekolahnya. Kekecewaan terlihat jelas di wajahnya.
Tangisnya memang telah usai. Namun masih ada sisa-sisa air mata di pipinya. Hari
telah sore. Namun ia masih berada di sekitar sekolah. Tiba-tiba ada yang
menyodorkan sebuah sapu tangan berwarna biru langit dengan motif kotak-kotak
kecil.
“Buat hapus air mata,”
ucapnya.
Flo mendongak
perlahan. Tapapannya berubah menjadi keterkejutan yang tak menyangka seseorang
yang selalu mengusiknya berada tepat di hadapannya bahkan menyodorkan sebuah
sapu tangan.
bersambung ...






