Lihatlah Aku (Part 7)



ini cuma cerita buat seneng2 aja. jika ada kesamaan nama mohon dimaklumi.

Selamat membaca :)












“Flo... lo baik, kan?” tanya Alfa khawatir melihat Flo yang hanya diam tak menjawabnya. Alfa mencoba menyentuh tangan Flo. Tapi kalah cepat dengan Flo yang menarik tangannya gesit  tanpa memandang ke arah Alfa. Alfa sontak terkejut. Terlihat di raut wajahnya perasaan bersalah ketika melihat kelakuan Flo yang berubah drastis.

“Flo, sorry,” ungkapnya. “Gue tau gue salah selama ini.... ” Alfa berhenti untuk menarik nafasnya. “Maaf jika aku mengecewakanmu.”

Flo langsung menatap tajam ketika Alfa mengakhiri kalimatnya, kekesalannya benar-benar  memuncak. “Semudah itu kah?” Flo tersenyum sinis. “Lo tau? Betapa sakitnya hati gue saat lo ninggalin gue tanpa berkata apapun?!! Bahkan kata selamat tinggal !!?”

BRAAK!

Suara kursi tergeser kasar terdengar bersamaan dengan Flo yang terbangun dari duduknya. Kedua tangannya menopang lurus ke meja, tubuhnya sedikit dibungkukkan membiarkan dirinya menatap lurus ke arah Alfa. Tatapan penuh benci. Alfa mendongak. Ia hanya diam membiarkan mata mereka berbicara dengan isyaratnya. Merasa kalau dirinya sudah tak mampu membendung rasa sakit di hatinya, Flo segera berbalik dan segera mengemasi barang-barangnya dengan sigap. Alfa yang melihat Flo berkemas itu refleks menarik tangan Flo. Namun Flo segera melepasnya kuat-kuat. Alfa tak henti-hentinya merujuk Flo untuk kembali duduk dan mendengarkan penjelasannya. Namun tetap saja usahanya itu sia-sia, Flo tetap pada pendiriannya. Bersamaan dengan selesainya berkemas, air mata Flo ikut luluh dan saat itu juga Flo langsung berlari sekuatnya tanpa memperdulikan Alfa yang memanggil dan mengejarnya dari belakang. Flo menuruni tangga dengan cepat. Dua anak tangga pun ia lewati, tangisnya yang tak kunjung berhenti membuatnya semakin ingin segera pergi dari tempat itu. Karena terburu-buru, Flo terpeleset dan hampir terjatuh dari anak tangga.

GYAAAAAAAA! Flo menjerit tak karuan. Ia ketakutan. Tapi untunglah ada seseorang yang menolongnya, mendekap begitu lembut dan nyaman. Mata mereka beradu pandang. Menatap begitu dalam. Terdengar suara detak jantung berdebar cepat di dada Flo.

“Flo.... ” panggilan Alfa langsung melemah ketika ia melihat Flo dan Gio.

Sementara Flo dan Gio langsung terkejut, tanpa sadar mereka saling menjauhkan diri.

“Dasar bodoh, turun tangga begitu doang kepleset!” omel Gio.

Flo mengusap sisa air mata di pipinya, melihat itu Gio baru sadar dan langsung menatap Alfa tajam.

“Itu bukan urusan lo!” cetus Flo menatap ke arah Alfa dingin lalu bergegas pergi. Namun tangan lihai Gio lebih cepat dari gerakan Flo. Flo mencoba meronta, namun Gio memegangnya erat.

“Lepas! Dasar tokek pincang!” Flo terlihat sangat kesal. Namun semakin lama nafas mulai tak teratur, Flo pun kembali terisak.

Perlahan Gio melonggarkan genggamannya dan Flo langsung menarik tangannya dan berlari menjauh. Melihat itu Alfa mengejar Flo. Saat membelakangi Gio, Alfa terhenti karena Gio memegangi pundaknya.

“Lo apain dia?” tanya Gio dingin.

“Itu bukan urusan lo, Gi.”

“Itu bakal jadi urusan gue kalo ada orang yang buat dia nangis.”

Alfa berbalik, melepas paksa cengkraman Gio. “Lo nggak punya hak atas itu.”

“Seharusnya gue yang bilang begitu!”

BUK!

Sebuah pukulan keras melayang ke pipi Alfa cepat membuat wajahnya terlihat membiru.







****






Flo duduk melamun di salah satu pohon di sekolahnya. Kekecewaan terlihat jelas di wajahnya. Tangisnya memang telah usai. Namun masih ada sisa-sisa air mata di pipinya. Hari telah sore. Namun ia masih berada di sekitar sekolah. Tiba-tiba ada yang menyodorkan sebuah sapu tangan berwarna biru langit dengan motif kotak-kotak kecil.

“Buat hapus air mata,” ucapnya.

Flo mendongak perlahan. Tapapannya berubah menjadi keterkejutan yang tak menyangka seseorang yang selalu mengusiknya berada tepat di hadapannya bahkan menyodorkan sebuah sapu tangan.






bersambung ...

Copyright 2009 Bubble Fairy Tail Story. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates