Lihatlah Aku (Part 3)


ini cuma cerita buat seneng2 aja, tak ada maksud untuk mengejek atau apapun. jika ada kesamaan nama mohon dimaklumi.
Selamat membaca :)




“Kenapa lo nggak bilang kalo ada anak baru kelas XI-IPA2 secakep dia sih?”. Menoleh ke belakang dengan wajah terpesona.
Tak jauh dari tempat orang yang mengobrol itu, seorang cowok sedang berjalan santai sambil membawa nampan berisi makanan yang dipesannya. Pandangannya menyeluruh, mengamati ke segala penjuru kantin sekolah yang ukurannya cukup besar itu ia mencari2 tempat yang menurutnya kosong untuk diduduki. kantin itu penuh. Wajahnya terlihat kecewa. Karena tak ada ruang baginya walau untuk menaruh nampannya sekalipun.
“Sengaja. dia inceran gue, lo jangan deket2 ya”orang itu tertawa“Hei, Alfa disini kosong”. Serunya memanggil cowok itu.
Cowok yang dipanggil Alfa itu menoleh, ia terlihat ragu.
“Disini kosong, bro”. Tiba2 terdengar seruan segerombolan cowok. Alfa pun melirik ke arah segerombolan cowok itu yang ternyata teman sekelasnya. Alfa pun kembali menoleh ke arah cewek yang tadi mengajaknya, lalu ia sedikit membungkukkan badannya dan tersenyum yang mewakili permintaan maafnya. Cewek yang mengajaknya terlihat kecewa.
Cewek yang bersamanya tertawa“senyumnya manis ya?”. Ia kembali tertawa.
Terlihat Rista mengamati di kejauhan lalu ia melirik ke arah Flo yang sedang lahap memakan bakso pesanannya itu, “Flo, lo beneran baik2 aja kan?”
Flo menghentikan acara makannya, ia menghela nafas, “apa muka gue terlihat sebegitu pucetnya hingga tiap detik elo nanya...Flo, lo beneran baik2 aja, hah!?”
“Gue kan beneran khawatir ama lo, Flo”
“Gue baik2 aja Rista, apa gue harus terjun dari atap sekolah supaya lo percaya ama gue?”
“Ya bukannya gitu...”
“Ah, nggak seru nih topiknya ini mulu”. Flo terlihat bete. Ia meneruskan makannya yang bisa dibilang masih terlihat sangat lahap walau tampangnya terlihat bete.
“Oke, kita ganti topik. GIO!”. Rista tersenyum.
Flo menghentikan makannya lagi. Wajah Flo terlihat makin bosan“Gio? Lo nggak salah milih topik kan?! oh, shit! mati kena bete gue”
Rista tertawa melihat sahabatnya mengoceh dengan wajah yang sangat bosan itu. Tanpa disadari Flo dan Rista, ternyata Alfa pun ikut mengamati mereka. Merasa seperti ada yang mengamatinya, Flo berhenti makan dan berbalik, mencari sosok yang memperhatikannya namun usahanya itu sia2 ia tak menemukan siapa orang yang memperhatikannya itu. Ia justru beradu pandang dengan Alfa yang padahal memang Alfalah yang memperhatikannya. Flo langsung berbalik setelah menatap tatapan Alfa yang teduh, ia kembali meneruskan makannya dengan lahap.




****




Sebenarnya, Flo bisa saja menanyakan pada Alfa langsung apakah dia ini Alfa teman semasa kecilnya atau bukan. Karena hubungan Flo dengan Alfa ini memang cukup dekat karena mereka sering ngobrol. Dan saat ini pun mereka sedang asik mengobrol, mereka asik mengobrol baik obrolan sesama teman maupun obrolan sesama pelajar. Namun, si Flo cuek2 saja dan nggak begitu peduli dia teman semasa kecilnya atau bukan. Ia tetap fokus pada tujuannya yang memang diniatkan untuk belajar. Dan sifat Flo yang satu ini memang sedikit membuat Rista sangat gemas. Ia ingin sekali menggigit bibir Flo yang tak mau bertanya itu. Padahal sudah beberapa kali Rista bilang pada Flo, tapi tetap saja anak itu kokoh tak mau bertanya. Setiap kali diceramahi oleh Rista, Flo pasti selalu beralasan ‘ah, gue lupa, Ta’. ‘lagi males nanya yang aneh2 nih’. ‘nggak tega nanya Ta, lagi asik’. ‘duh, lagi nggak pengen ngomongin masa lalu’ dan lain2.
Haduuh, dasar Flo! tuh anak cuek atau pura2 cuek sih!? Bisa mati penasaran gue. Oceh si Rista kesal saat ia mendengarkan pembicaraan Flo dan Alfa.
Rista iseng mengamati wajah Alfa. Namun, ia merasa ada perasaan aneh saat menatap bola matanya. Perasaan seorang sahabat yang rindu akan sahabatnya. Tatapannya yang teduh, membuat Rista mengingatkannya kepada orang yang memang sangat dirindukannya saat ini. Seseorang yang selama 4 tahun terakhir ini menghilang dari hadapannya.
Tak salah lagi, dia memang Alfa. Rista terlihat yakin.














bersambung

Lihatlah Aku (Part 2)

ini cuma cerita buat seneng2 aja, tak ada maksud untuk mengejek atau apapun. jika ada kesamaan nama mohon dimaklumi.
Selamat membaca :)




Keesokan harinya ...
“Hoy! Ngelamun terus sih?!”. Flo mengagetkan Rista yg sedang duduk di kelas.
“Nggak, cuma lagi mikir aja”. Jawab Rista enteng. Flo hanya ber’o’ saja.“dari mana lo?”
“Biasa cari angin”. Flo nyengir kuda.
“Lo cari angin? Bohong banget deh!”
“Gue beneran cari angin, Ta”
“Alah, nggak usah bohong ama gue! Bilang aja kalo lo itu abis nolak...COWOK!”
“Hahaha emangnya gue apaan tiap hari ditembak cowok?”.
Come on, Flooooo”.
“Apa sih, Taaaa? Gue bener cari angin kok”.
“Huft, mau sampe kapan sih lo bakal nolak cowok? Sekaliii aja lo pacaran lagi. Buat gue, gue khawatir Flo”. Rista menyentuh tangan Flo.
“Maaf Ta, tapi belum terlintas di fikiran gue, gue mau fokus ama sekolah dulu sekarang, kita kan udah mau ujian kenaikan kelas”
“Setidaknya demi gue Flo, please? Atau jangan2 lo masih ngarep ama Al...”
“TA!”. Bentak Flo. Rista terdiam, merasa bersalah.
“Sorry, Flo. Gue cuma nggak mau liat lo sedih”
“Gue tau niat lo baik, tapi gue baik2 aja. Lo nggak usah khawatir, cukup lo khawatirin diri lo aja”. Flo tersenyum meyakinkan. Rista tersenyum tipis. Flo merangkul Rista“nah, gitu dong!”
Lo selalu ngehindar dan pura2 tersenyum, gimana gue nggak khawatir? Gue tau lo rapuh, Flo. Ucap Rista dalam hati.

“Oy, OWES!”. Seru seseorang dari luar kelas. Suara itu sudah tak asing lagi bagi Flo, ia pun keluar dengan langkah kesal.
“Apa-apaan sih? Gue udah bilang kan, panggil gue FLO, not OWES! Ugh”
“Cih, ya suka-suka gue dong gue mau manggil apa, gue kan ketua lo”
Flo terlihat makin kesal, tapi ia mencoba untuk lebih bersabar.“Baiklah ketua Gio terhormat, ada urusan apakah ketua memanggil saya? Jika tak penting, lebih baik ketua pergi saja”
“Dengerin gue baik2 ya, gue cuma bilang sekali,lho”.
Flo terlihat bosan“ya...ya, udah buruan ngomong!”
“Gue minta, lo buat data semua eskul olahraga”
“Buat apaan?”
“Ah, bawel lo. Udah buat sanah!”
“Iye2, ntar gue buat! Udah kan? Pergi sono!”
“Ngapain lo ngusir gue? Lo belum bikin datanya!”
“Geh? Buat ntar kan? Udahlah ntar aja, nanti gue anter ke lo!”
“Ntar? Yang bilang buat ntar siapa? Sekarang bego!Udah sana buat!”
“Rrrrrrrgh! Kenapa nggak bilang dari tadi siiih?!”
Sial, nyesel gue jadi manager eskul! Kalo gue tau dari awal dia ketua, nggak akan deh gue nyalonin.UGH!. Omel Flo dalam hati.
Setelah menyerahkan data ke Gio, bel pun berbunyi.“Huffffft, pagi2 udah ketemu orang kayak gitu, bikin badmood”. Flo mendumel.
“Ngomong sama meja, Flo?”. Tanya Rista.
“Rista, lo masih mau idup kan?”. Rista hanya nyengir kuda.
“Ada guru tuh!”
Everybody, kita kedatangan murid baru. Silahkan perkenalkan diri anda, Vino”
Orang yang dipanggil Vino itu pun memasuki kelas.
“Flo, kok gue ngerasa nggak asing ama orang ini ya?”. Bisik Rista.
“Cuma perasaan lo doang kali”. Flo balas berbisik.
“Perkenalkan, nama saya Vino Alfajhri Adam. Biasa dipanggil Alfa. Saya pindahan dari River Valley High School (RVHS), Singapur.”
DEG!
Jantung Flo berdebar begitu cepat, saat mendengar nama murid baru itu. Matanya terbelalak. Wajahnya terlihat pucat. Rista pun ikut terkejut. Ia langsung melirik ke arah Flo. “Flo?”. Panggil Rista hati2. Ada kekhawatiran disela2 nada bicaranya itu. Flo hanya terdiam. Tatapannya kosong.
Namanya ... nggak! Itu pasti salah, itu bukan Alfa. Dia nggak mungkin balik. Iya, ini pasti kebetulan! Tenanglah Flo ini hanya kebetulan. Flo meyakinkan dirinya.
Melihat Flo yang tak merespon, Resta menyentuh tangan Flo pelan memastikan apakah Flo baik2 saja. Rista merasakan tangan sahabatnya itu seketika dingin. Rista semakin khawatir. Flo merasakan ada yang menyentuh tangannya. Ia pun menoleh. Terlihat wajah sahabatnya begitu khawatir.
“Gue baik2 aja kok”. Flo tersenyum memastikan sambil ikut menggenggam tangan Rista.“ini cuma kebetulan”
“Okay, Vino anda bisa duduk di ... meja sebelah Flo”. Ucap sang guru.
Pelajaran pun akhirnya dimulai. Namun Flo tak konsen, ia masih gundah.










bersambung

Lihatlah Aku (Part 1)


ini cuma cerita buat seneng2 aja, tak ada maksud untuk mengejek atau apapun. jika ada kesamaan nama mohon dimaklumi.
Selamat membaca :)





“Gio, balikin tas gue! Lo iseng banget sih!”. Kata seorang cewek memakai seragam SMA yang berusaha mengambil tasnya.
“Kalo lo mau tas lo balik, kejer gue! Hahaha”. Anak yang dipanggil Gio itu menjulurkan lidah.“Arrrrrgh! Sialan! Awas lo, ya!”. Ancam sang cewek tadi. Ia terlihat kesal.
Cewek itu bersiap berlari begitu juga dengan Gio. Mereka berancang2 namun tiba2 ada yang memanggil.
“Woy, Flo! Lo mau kemana?! Katanya mau balik? Gimana sih?!”. Seru seseorang.
Flo, cewek yang sejak tadi berusaha mengambil tasnya itu menoleh begitu juga dengan Gio.“Bentar, Ta. Tas gue di Gio!”. Flo kembali memandang Gio, pandangannya tajam dan mengancam”balikin!”serunya sambil merebut tas dari tangan Gio.“Eiits!”. Dengan gesit Gio menghindar”gue bilang kan kejer gue dulu”. Gio berlari menjauh sambil tertawa.
“Arrgh! GIOOOOO, balikin tas gue!”.
Flo terlihat sangat kesal. Ia pun langsung berlari mengejar Gio yang sudah jauh di depannya. Ia tak perduli sahabatnya, Rista memanggilnya di kejauhan yang kemudian ikut menyusul.
“Woy, Gio! Berhenti lo! Balikin tas gue! Gue mau balik!”. Teriak Flo kesal.
“Hahaha kejer gue du...”. Omongan Gio berhenti.


BRUUUK!

Gio menoleh ke belakang. Ia agak kaget saat melihat siapa yang ditabraknya.
“Woy, Giooooooo! Balikin tas gu...”. Flo langsung berhenti ketika melihat guru di depannya.
“Aduh! Maaf Bu, maaf. Saya tidak sengaja. Mari saya bantu”.
Gio membantu guru yang melihat agak sinis ke arahnya itu. Ia pun memunguti buku2 yang berserakan di lantai. Setelah semuanya selesai, ia mengembalikan buku2 itu kepada sang guru.
“Apa yang sebenarnya anda lakukan sampai2 tak memperhatikan sekeliling anda, Gio Artawinata?”. Kata guru itu sinis.
“Anu Bu, itu...”. Omongan Gio dipotong.
“Dia mengganggu saya Bu, tas saya diambil dia, lalu dia lari!”. Tegas Flo. Ia terlihat puas.
Gio memelototi Flo, namun Flo kembali melotot.
“Benarkah itu, Gio?”. Tanya sang guru memandang tajam ke arah Gio.
Gio hanya diam, lalu ia mengangguk.
Guru itu pun memarahi Gio. Flo hanya tersenyum puas. Akhirnya Gio pun mengembalikan tas Flo sambil meminta maaf. Guru itu pun meninggalkan Gio dan Flo.
“Mampus lo! Hahahaha”. Flo tertawa puas.
“Aduh Flo...lo lari kenceng banget sih?!”. Kata seseorang yang ternyata itu Rista.
“eh, Ta! Tas gue udah balik nih. Yuk, pulang!”. Flo meninggalkan Gio lalu merangkul Rista pergi.
Ditempatnya, Gio terlihat kesal. Lalu pergi.






****







“Sumpah ya Ta, Gio tuh nyebelin banget sih! Pengen gue ulek tuh orang! Tiap hari bisanya ngerjain gue! Ga ada kerjaan kali ya tuh anak? Ukh!”. Omel Flo saat di jalan.
“Sejak kapan jadi cerewet gini, Flo? Ternyata kalo ngomongin Gio jadi cerewet, ya? haha”
“Ah Ta, lo...”. Flo menunjuk2 Rista dengan telunjuknya.
“Hahaha kalo kelakuan lo kayak begini, bisa2 lo suka ama Gio. Awas lho Flo! Hahaha” Rista makin menggoda Flo.
Flo terlihat kesal, ia mengacak2 rambut Rista”aaaaaah, jail banget sih lo, Ta!”.
“Haha sekarang lo nggak mau balik nih? Udah nyampe rumah tuh!”. Ingat Rista.
Flo menoleh ke samping kanan. Ternyata memang benar itu rumahnya.
“Haha lo mikirin apa sih Flo, ampe lupa rumah sendiri? Mikirin Gio mulu sih! Hahaha”.
Sebelum amarah Flo meledak, Rista sudah berlari masuk ke rumahnya yang hanya beda satu rumah itu.
“Ristaaaaaaaaa, awas lo ya! Besok bakal gue rujak!”. Seru Flo jengkel.
Terdengar samar2 suara tawa meledak dari dalam rumah Rista, mendengarnya Flo makin dongkol.







bersambung...
Copyright 2009 Bubble Fairy Tail Story. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates