ini cuma cerita buat seneng2 aja. jika
ada kesamaan nama mohon dimaklumi.
Selamat membaca :)
Flo duduk melamun
pada salah satu pohon di taman belakang sekolahnya. Terlihat masih ada
sisa-sisa air mata di pipinya. Tiba-tiba saja ada yang menyodorkan sapu tangan
berwarna biru langit dengan motif kotak-kotak kecil.
“Buat hapus air mata”
ucapnya.
Flo mendongak
perlahan. Tatapannya kini menjadi terkejut melihat orang yang saat ini menyodorkan
sapu tangan. Tatapan tak menyangka. Dengan perasaan ragu, perlahan Flo
mengambil sapu tangan. Gio, orang yang menyodorkan sapu tangan itu duduk
bersamaan dengan Flo yang mengusap sisa air mata di pipinya. Ia duduk santai di
sebelah Flo dengan salah satu kakinya yang ia rebahkan dan sisanya ia tekuk, tangannya
memeluk kakinya yang di tekuk sementara pandangannya lurus ke depan. Flo
menoleh ke arah Gio. Ia terpana menatap gayanya yang sangat santai.
“Natapnya biasa aja,”
tuturnya masih memandang lurus.
Flo langsung
memandang lurus ke depan. Sapu tangannya ia genggam. “Kalo lo ke sini cuma mau
gangguin gue, lebih baik lo pergi.”
Gio hanya diam, masih
menatap lurus ke depan. Flo heran dengan tingkahnya, ia kembali menoleh. Namun
saat ia menoleh ia dikejutkan oleh perkataan Gio.
“Kalo lo butuh, lo
boleh pinjem bahu gue.”
Entah kenapa
tiba-tiba mata Flo terasa menghangat. Di sudut matanya, terlihat air mata yang
bersiap untuk mengalir. Ia terisak, bahunya naik turun tak menentu. Kedua
tangannya hanya bisa terpaku di depan bibirnya yang bergetar. Sapu tangan yang
ia genggam tak mampu untuk menahan derasnya air mata yang jatuh di kedua
pipinya itu. Dengan perasaan ragu, perlahan Gio mendekap Flo.
“....”
Tangisan Flo semakin
lama semakin menjadi. Gio hanya diam menatap lurus ke depan dengan pandangan
kosong sambil mendekap Flo. Keduanya terdiam, hanya suara angin dan tangisan
Flo yang mengiringi kesunyian di antara mereka. Beberapa saat kemudian Flo
mulai tenang dan ia pun berhenti menangis. Entah kenapa saat ini Gio mampu
membuat Flo melupakan masalah dan tangisannya tadi padahal Gio tak melakukan
apapun.
Hari semakin sore.
Matahari pun telah kembali keperaduannya. Langit yang jingga membuat langit itu
terlihat sangat indah. Flo beranjak dari duduknya. Gio mengikuti pergerakan Flo.
Flo menatap langit nan elok itu. Ia tesenyum dan menutup mata sambil merentangkan
kedua tangannya tinggi-tinggi. Merasakan sejuknya angin sore.
“Lo cantik,” gumam
Gio menatap Flo penuh minat.
Flo kaget dan
langsung menoleh, “Apa?”
****
“Gue boleh duduk
disini?”
Flo dan Rista yang
sedang asik mengobrol itu mendongak. Flo langsung membuang wajahnya saat tahu
Alfa berdiri di sampingnya. Alfa terlihat sedih.
“Pake acara izin
segala,” Rista tertawa pelan dan mengajak Alfa untuk duduk.
Flo langsung menatap
Rista tajam. Rista hanya tersenyum dan mengangkat bahunya. Alfa pun duduk tepat
di samping Flo.
Rista memandang Alfa.
“Muka lo kenapa, Al? Lo abis berantem? Kok biru gitu.”
Flo terkejut
mendengar pertanyaan Rista. Ia baru sadar kalau Alfa terluka.
“Kemarin ada orang
yang nyangkain gue maling, jadi gue digebukin deh!”
Alfa tertawa sambil
memandang Flo. Namun yang dipandang malah asik mengetuk-ngetuk jarinya ke meja.
Alfa menghela nafas. Tanpa sepengetahuan Rista, dia mencoba memegang tangan Flo
namun Flo menepisnya. Dan pada saat itu juga Flo berdiri.
“Lo mau kemana Flo?”
tanya Rista. “Gue kan belum selesai cerita.”
Flo menatap ke arah
Alfa dingin. “Gue....”
“Hoy Ose, lo lupa ya
sekarang ada rapat? Yang lain udah pada nungguin tuh!” potong Gio menghampiri
Flo dkk. Ia langsung menatap Alfa tajam.
“Enggak. Ini juga gue
mau cabut,” Flo terlihat lega.
“Flo, lo kok nggak
bilang ke gue dulu sih?” Rista terlihat protes.
“Gue lupa, Ta. Sorry
gue harus pergi. Bye.” Flo berjalan keluar kantin bersama Gio yang berjalan di
belakangnya.
Alfa memandang Rista
heran. Yang dipandangnya hanya mengangkat bahu. Saat berada di depan ruangan
Flo menghentikan langkahnya dan berbalik. Membuat Gio menabraknya dan ponselnya
hampir saja terjatuh.
“Gue ....”
“Lo gila ya?! Kalo
hape gue jatuh gimana, hah?! Mau tanggung jawab lo?” potong Gio kesal. Ia
langsung menerobos masuk ke dalam ruangan. “Ngapain lo disitu? Ayo cepet
masuk!”
Flo terlihat kesal. Ishh, tuh
orang aneh banget sih?! Kemarin aja baik, sekarang?! Punya kepribadian ganda
kali ya? Dasar aneh! Flo mengomel
dalam hati. Tapi Flo bersyukur Gio tak menyinggung apapun tentang kejadian yang
menimpanya kemarin sore itu.
****
bersambung ...






