ini cuma cerita buat seneng2 aja. jika ada kesamaan nama mohon dimaklumi.
Selamat membaca :)
“Gio, awas!”
Flo dan Alfa langsung
menatap ke arah Gio. Alfa hanya terbelalak melihat bola melayang kencang
menghampiri Gio. Sementara Flo langsung melepaskan genggaman Alfa dan langsung
berdiri sambil berteriak. “Gio!”
Gio yang sedang
memperhatikan Flo dan Alfa saat itu pun memandang ke depannya dan ia terkejut
melihat bola menghampiri wajahnya cepat. Ia hanya menatap bola itu kaget.
Kejadian itu begitu cepat dan dengan mulusnya bola itu berhasil mendarat di
kepala Gio.
Pasti sakit. Alfa bergumam dalam hatinya.
Gio meringis saat
terjatuh sambil memegangi bagian kepalanya yang terasa berdenyut. Flo langsung
berlari menghampiri Gio yang masih terduduk di tempatnya. Alfa kaget melihat Flo
yang langsung menghampiri sahabatnya yang baru saja dicium oleh pukulan bola
keras.
“Lo nggak papa?” Flo
langsung membantu Gio untuk bangun.
Gio menatap Flo aneh
lalu ia menepis bantuan Flo, sebelumnya ia sempat melirik ke arah Alfa yang
menatap dirinya penuh kesal. “Gue bisa sendiri.”
Flo terlihat kaget.
Ia sedikit kesal. “Ish, masih untung lo gue bantuin tahu!”
Gio menatap tajam
sambil memegangi kepalanya. “Itu nggak perlu, gue juga nggak minta bantuin lo.
Lagian lo itu nggak ikhlas buat nolongin!” Gio berjalan ke pinggir lapangan.
Semua yang ada di
lapangan selain Flo dan Alfa mengerubungi Gio yang masih memegangi kepala. Flo
terlihat sangat kesal dengan kelakuan Gio. Flo sempat mendengar pelatihnya
memarahi Gio namun Gio hanya berkata maaf seperti tak terjadi apa-apa.
Tuh anak emang nyebelin banget! Gue kan cuma
pengen nolongin! Nyesel gue!
****
Gio memangku gitar
putih miliknya. Tak lama kemudian terdengar suara merdu dari gitar itu yang
disusul oleh suaranya. Dia bernyanyi penuh penghayatan. Lagu itu mengiring
dengan indahnya walau liriknya penuh keharuan. Di koridor, Flo berhenti
berjalan ketika melihat Gio duduk di depan kelas XI IPA-1. Kelas Gio. Flo
menatap penuh minat. Dia mengurungkan niatnya untuk pulang dan sesegera mungkin
mencari tempat duduk untuk mendengar lagu itu. Flo terdiam. Dia tau lagu itu.
Lagu itu memang tak asing baginya.
Kok gue ngerasa nyanyian ini seperti
sebuah pesan yang nggak tersampaikan, ya? Flo
menatap Gio lagi. Ah, cuma perasaan gue aja nih!
“Lagi apa lo?” tanya
Gio seusai meletakkan gitar di tempatnya.
“Berdiri,” jawab Flo
enteng. Kemudian berlalu pergi. Gio hanya menatapnya aneh. Lalu berdiri
menggendong tas dan gitarnya.
“Kak Gio,” panggil
seorang cewek di belakang Gio yang langsung menoleh. “Boleh bicara sebentar?”
Mendengar kata ‘kak’
memanggil Gio, Flo langsung menoleh sebentar lalu berlari menjauh. Gio menoleh
ke arah tempat Flo, namun nihil yang ia dapat. Flo sudah menghilang. Gio
kembali memfokuskan pandangannya ke cewek tadi. “Ya. Kenapa?”
Ternyata Flo belum
menghilang. Ia menyembunyikan dirinya di balik tembok koridor. Ia tahu dirinya
salah, tapi ia pun tak tahu mengapa dirinya berada di sana dan mendengarkan
pembicaraan orang.
“Kak Gio, aku Vera
kelas X-6. Sebenernya... aku... aku suka sama kakak sejak pertama aku masuk
sini....” katanya terbata-bata.
Flo bisa mendengar Vera,
adik kelasnya itu bicara dengan sangat gugup. Flo kaget mendengar akhir kalimat
itu. Sementara Gio hanya diam.
“Kakak... mau nerima
aku?” tanya Vera hati-hati.
Gio menatap Vera
dalam. Ia melihat tatapan anak itu sangat serius. Ia jadi merasa bersalah.
“Maaf....”
“Kenapa? Kakak...
udah punya cewek?” Vera menatap sedih. Gio menggeleng pelan. “... kakak suka
sama seseorang?” tanya Vera lagi.
Mata Vera mulai
berkaca-kaca namun ia langsung mengusap air matanya cepat. Gio menghela nafas berat.
“Kak... apa bener
kakak suka sama seseorang?”
“... ya.”
Flo benar-benar
kaget mendengar jawaban Gio. Tak menyangka.
“Boleh tahu siapa?”
tanya Vera polos.
Gio hanya tersenyum.
Vera kaget menatapnya, ia merasa senang karena Gio tersenyum kepadanya.
“Maaf ya,” kata Gio
tulus.
“Nggak papa kok kak.
Maaf, aku udah mengganggu waktu kakak” anak itu tersenyum.
“Sekali lagi maaf
ya,” kata Gio yang disambut dengan anggukan Vera yang setelah itu pergi. Gio
hanya menghela nafas kemudian berlalu pergi.
****
Bersambung....






