Lihatlah Aku (Part 10)



ini cuma cerita buat seneng2 aja. jika ada kesamaan nama mohon dimaklumi.


Selamat membaca :)





“Gio, awas!”
Flo dan Alfa langsung menatap ke arah Gio. Alfa hanya terbelalak melihat bola melayang kencang menghampiri Gio. Sementara Flo langsung melepaskan genggaman Alfa dan langsung berdiri sambil berteriak. “Gio!”
Gio yang sedang memperhatikan Flo dan Alfa saat itu pun memandang ke depannya dan ia terkejut melihat bola menghampiri wajahnya cepat. Ia hanya menatap bola itu kaget. Kejadian itu begitu cepat dan dengan mulusnya bola itu berhasil mendarat di kepala Gio.
Pasti sakit. Alfa bergumam dalam hatinya.
Gio meringis saat terjatuh sambil memegangi bagian kepalanya yang terasa berdenyut. Flo langsung berlari menghampiri Gio yang masih terduduk di tempatnya. Alfa kaget melihat Flo yang langsung menghampiri sahabatnya yang baru saja dicium oleh pukulan bola keras.
“Lo nggak papa?” Flo langsung membantu Gio untuk bangun.
Gio menatap Flo aneh lalu ia menepis bantuan Flo, sebelumnya ia sempat melirik ke arah Alfa yang menatap dirinya penuh kesal. “Gue bisa sendiri.”
Flo terlihat kaget. Ia sedikit kesal. “Ish, masih untung lo gue bantuin tahu!”
Gio menatap tajam sambil memegangi kepalanya. “Itu nggak perlu, gue juga nggak minta bantuin lo. Lagian lo itu nggak ikhlas buat nolongin!” Gio berjalan ke pinggir lapangan.
Semua yang ada di lapangan selain Flo dan Alfa mengerubungi Gio yang masih memegangi kepala. Flo terlihat sangat kesal dengan kelakuan Gio. Flo sempat mendengar pelatihnya memarahi Gio namun Gio hanya berkata maaf seperti tak terjadi apa-apa.
Tuh anak emang nyebelin banget! Gue kan cuma pengen nolongin! Nyesel gue!






****






Gio memangku gitar putih miliknya. Tak lama kemudian terdengar suara merdu dari gitar itu yang disusul oleh suaranya. Dia bernyanyi penuh penghayatan. Lagu itu mengiring dengan indahnya walau liriknya penuh keharuan. Di koridor, Flo berhenti berjalan ketika melihat Gio duduk di depan kelas XI IPA-1. Kelas Gio. Flo menatap penuh minat. Dia mengurungkan niatnya untuk pulang dan sesegera mungkin mencari tempat duduk untuk mendengar lagu itu. Flo terdiam. Dia tau lagu itu. Lagu itu memang tak asing baginya.
Kok gue ngerasa nyanyian ini seperti sebuah pesan yang nggak tersampaikan, ya? Flo menatap Gio lagi. Ah, cuma perasaan gue aja nih!
“Lagi apa lo?” tanya Gio seusai meletakkan gitar di tempatnya.
“Berdiri,” jawab Flo enteng. Kemudian berlalu pergi. Gio hanya menatapnya aneh. Lalu berdiri menggendong tas dan gitarnya.
“Kak Gio,” panggil seorang cewek di belakang Gio yang langsung menoleh. “Boleh bicara sebentar?”
Mendengar kata ‘kak’ memanggil Gio, Flo langsung menoleh sebentar lalu berlari menjauh. Gio menoleh ke arah tempat Flo, namun nihil yang ia dapat. Flo sudah menghilang. Gio kembali memfokuskan pandangannya ke cewek tadi. “Ya. Kenapa?”
Ternyata Flo belum menghilang. Ia menyembunyikan dirinya di balik tembok koridor. Ia tahu dirinya salah, tapi ia pun tak tahu mengapa dirinya berada di sana dan mendengarkan pembicaraan orang.
“Kak Gio, aku Vera kelas X-6. Sebenernya... aku... aku suka sama kakak sejak pertama aku masuk sini....” katanya terbata-bata.
Flo bisa mendengar Vera, adik kelasnya itu bicara dengan sangat gugup. Flo kaget mendengar akhir kalimat itu. Sementara Gio hanya diam.
“Kakak... mau nerima aku?” tanya Vera hati-hati.
Gio menatap Vera dalam. Ia melihat tatapan anak itu sangat serius. Ia jadi merasa bersalah. “Maaf....”
“Kenapa? Kakak... udah punya cewek?” Vera menatap sedih. Gio menggeleng pelan. “... kakak suka sama seseorang?” tanya Vera lagi.
Mata Vera mulai berkaca-kaca namun ia langsung mengusap air matanya cepat. Gio menghela nafas berat.
“Kak... apa bener kakak suka sama seseorang?”
“... ya.”
Flo benar-benar kaget mendengar jawaban Gio. Tak menyangka.
“Boleh tahu siapa?” tanya Vera polos.
Gio hanya tersenyum. Vera kaget menatapnya, ia merasa senang karena Gio tersenyum kepadanya.
“Maaf ya,” kata Gio tulus.
“Nggak papa kok kak. Maaf, aku udah mengganggu waktu kakak” anak itu tersenyum.
“Sekali lagi maaf ya,” kata Gio yang disambut dengan anggukan Vera yang setelah itu pergi. Gio hanya menghela nafas kemudian berlalu pergi.





****






Bersambung....

Lihatlah Aku (Part 9)


ini cuma cerita buat seneng2 aja. jika ada kesamaan nama mohon dimaklumi.


Selamat membaca :)





Flo dan Rista sedang memasukkan baju olahraga ke loker mereka masing-masing. Terlihat Alfa datang menghampiri. Flo terlihat malas.
“Flo, gue ...”
“Ta, gue duluan ya. Mau rapat,” Flo memotong perkataan Alfa lalu ia pun pergi. Alfa hanya menghela nafas panjang melihat perilaku Flo terhadapnya.
“Lo berantem ama Flo?” tanya Rista melihat punggung Flo yang semakin menjauh.
Alfa terlihat sedih, “Dia udah tau, Ris.”
“Eh? Tau dari siapa?”
“Gue.”
“Aduh, kenapa lo bilangnya sekarang?”
Alfa menghela nafas. “Gue nggak bisa terus-terusan bohongin dia.”
Rista menepuk pundak Alfa. “Gue ngerti kok. Kalo udah begini rencana lo apa?”
Alfa mengangkat bahu. “Gue duluan ya, Ris!”






****





“Ah, sial! Rapatnya lama amat sih! Jadi pulang kesorean gini. Mana udah mau gelap! Sepi pula!” Flo mendumel selama perjalanan pulang ke rumahnya.
Saat melewati taman, tiba-tiba ada 7 orang yang menghadangnya, salah satu dari mereka menarik tangan Flo. Mereka adalah preman yang sedang mabuk.
“Lepasin gue!”
“Ayo kita main neng!” sang bos tersenyum menggoda.
“Ogah!”
“Wah, dia songong tuh bos,” ujar salah satu pengikut yang berdiri di samping bosnya.
Sang bos, mendekati Flo dan mencolek dagunya. Flo mebuang wajahnya. Dan ketika itu juga tangannya ditarik kasar oleh preman yang memeganginya.
“Lepasin gue!” Flo memberontak. Namun cengkraman preman itu justru semakin kencang. “Aw! Lepasin gue! Sakit tau!”
Preman-preman itu hanya menyeret Flo. “Lo lo semua mau bawa gue kemana, hah? Toloooooong!” Flo menjerit sekencangnya.
“Lo bisa diem nggak sih?! Berisik amat!” orang itu membentak kencang, Flo terdiam. Nafasnya tak teratur. Ketakutan.
“HOI! Beraninya main keroyokan lo!”
Tiba-tiba ada seseorang yang menantang. Tentu saja mereka semua menoleh begitu juga Flo. Mereka geram. Sementara Flo terkejut. Kenapa si Gio itu ada disini? Pikir Flo.
“Kalau berani, ayo sini maju! One by one, woi!” katanya menantang.
“Cuih! Songong-songong amat nih anak kecil!”
“Ose, lo udah diapain aja sama preman-preman banci ini?!”
“Sembarangan aja lo kalo ngomong!”
Mendengar perkataan Gio, preman-preman itu langsung mengeroyok Gio. Gio balas melawan, sesekali ia kena tonjok salah satu preman itu. Tapi lama kelamaan Gio kewalahan juga. Flo melihat orang yang memeganginya melamun langsung saja Flo pun menggigit tangan orang itu dan ia berhasil kabur dan menolong Gio yang hampir saja terpukul. Alhasil, dirinyalah yang kena pukulan keras di perutnya. Flo hanya bisa menahan sakitnya. Melihat itu Gio langsung saja menghajar semua yang mengelilinginya. Ia menghampiri Flo.
“Lo gila, hah? Itu bahaya!” Gio mencoba menahan amarahnya.
Flo tak mengindahkan kata-kata Gio karena ia melihat preman di belakang Gio membawa pisau lipat di tangannya. Flo pun langsung menghadang orang itu. Mata Gio melebar, melotot menatap Flo. Preman itu tetap berjalan yang sebelumnya mendorong Flo hingga jatuh tersungkur di jalan. Sikunya terluka. Tapi ia masa bodoh, ia hanya menatap Gio yang mencoba menghindari pisau tajam yang mencoba menusuk tubuh Gio. Gio melirik ke arah Flo yang gemetar karena takut. Dan pada saat itu juga amarah Gio memuncak. Ia menghajar habis-habisan orang itu hingga membuat pisau lipat preman itu terlempar dan sang preman terjatuh lemah. Setelah itu Gio menghampiri preman-preman yang lainnya dan menghajar mereka. Preman-preman itu kewalahan dan berlari menjauh. Mereka kabur dengan memegangi daerah yang terasa ngilu. Gio mendekati Flo sambil memegangi lengan kirinya yang sempat tergores pisau saat menghajar preman tadi.

“Lo nggak papa?”









bersambung ...
Copyright 2009 Bubble Fairy Tail Story. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates